Connect with us

Limfoma non-Hodgkin

Penyakit

Limfoma non-Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin

Informasi ini dirangkum dari Klikdokter ,Aldokter dan Hellosehat mengenai

Defenisi:

Limfoma non-Hodgkin adalah kanker yang berkembang di kelompok sistem limfatik atau getah bening, yaitu pembuluh dan kelenjar yang tersebar di seluruh tubuh yang berfungsi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Di dalam pembuluh limfatik mengalir cairan bening yang disebut cairan limfe. Cairan ini mengandung salah satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit dan berfungsi melawan infeksi. Kelainan limfosit ini merupakan awal mula terjadinya limfoma (kanker kelenjar getah bening). Limfoma dibedakan menjadi 2, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin berdasarkan bentuk kelainan sel kanker yang dilihat di bawah mikroskop.

Limfoma non-Hodgkin yang tidak segera mendapatkan perawatan dapat menyebar ke kelompok sistem limfatik lainnya dan bahkan menyebar juga ke organ tubuh lain, seperti hati, otak, atau sumsum tulang. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa.

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah lebih mungkin untuk menderita non-Hodgkin lymphoma. Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang di atas usia 60 tahun dan laki-laki lebih mungkin mengalaminya dibandingkan perempuan. Anda dapat mencegah terjadinya penyakit dengan mengurangi faktor risiko. Silakan konsultasi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Limfoma Non Hodgkin adalah salah satu jenis limfoma, yaitu kanker yang menyerang kelenjar getah bening (KGB). Limfoma Non Hodgkin terdiri dari berbagai jenis, tergantung jenis sel darah putih mana yang menjadi ganas, di antaranya adalah limfoma Non Hodgkin sel B, sel T, dan sel NK (natural killer).

Sebagian besar kasus limfoma Non Hodgkin berasal dari sel B. Jenis ini merupakan kanker yang bertumbuh dan menyebar dengan cepat.

Gejala:

Gejala utama limfoma non-Hodgkin adalah pembengkakan tanpa nyeri di kelenjar getah bening, seperti di leher, ketiak, atau lipat paha. Namun, tidak semua pembengkakan kelenjar getah bening menunjukkan gejala kanker. Kelenjar getah bening juga dapat membengkak akibat respons terhadap infeksi yang dialami tubuh.

Selain pembengkakan kelenjar getah bening, ada beberapa gejala lain limfoma non-Hodgkin yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Penurunan berat badan.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Nyeri dada.
  • Gangguan pernapasan.
  • Perut terasa sakit atau membesar.
  • Anemia.
  • Kulit terasa gatal.
  • Gangguan pencernaan.
  • Demam dan menggigil
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, selangkangan, atau daerah lain
  • Nyeri perut atau kembung
  • Tidak nafsu makan
  • Sembelit
  • Mual atau muntah
  • Sakit kepala
  • Kejang

Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala tersebut, terutama jika gejala tidak kunjung membaik atau bertambah buruk.

Penyebab:

Penyebab limfoma non-Hodgkin adalah perubahan DNA atau mutasi yang terjadi di dalam salah satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit. Namun, penyebab terjadinya mutasi belum diketahui hingga saat ini.

Umumnya, tubuh akan memproduksi limfosit baru untuk menggantikan limfosit yang telah mati. Namun pada kasus limfoma non-Hodgkin, limfosit terus membelah dan berkembang secara abnormal (tanpa henti), sehingga terjadi penumpukan limfosit di dalam kelenjar getah bening. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) dan tubuh menjadi rentan terhadap infeksi.

Ada dua sel yang menjadi awal munculnya limfoma non-Hodgkin, yaitu:

  • Limfosit B. Sebagian besar limfoma non-Hodgkin muncul dari sel ini. Limfosit B melawan infeksi dengan cara memproduksi antibodi yang mampu menetralisir bakteri atau virus yang berbahaya bagi tubuh.
  • Limfosit T. Beberapa limfosit T bertugas menghancurkan bakteri, virus, atau sel abnormal lain dalam tubuh secara langsung. Sementara limfosit T lainnya membantu mempercepat atau memperlambat aktivitas sel-sel sistem imun yang lain.

Selain itu, ada sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi munculnya limfoma non-Hodgkin, di antaranya:

  • Usia. Limfoma non-Hodgkin dapat menyerang siapapun dari berbagai usia, namun risiko kanker ini meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar limfoma non-Hodgkin menyerang orang yang berusia 60 tahun ke atas.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah. Kondisi ini dipicu oleh berbagai hal, seperti HIV atau konsumsi obat-obatan penurun sistem kekebalan tubuh, misalnya setelah transplantasi organ.
  • Kondisi autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, atau sindrom Sjogren.
  • Infeksi virus dan bakteri tertentu. Beberapa infeksi virus atau bakteri tertentu dapat meningkatkan risiko munculnya limfoma non-Hodgkin. Infeksi virus meliputi HIV dan virus Epstein-Barr, sedangkan infeksi bakteri adalah Helicobacter pylori yang menyebabkan tukak lambung.
  • Bahan kimia tertentu, seperti pestisida.

Limfoma non-Hodgkin tidak menular dan tidak diturunkan. Meskipun demikian, ada peningkatan risiko jika anggota keluarga terdekat, seperti orang tua atau saudara kandung pernah menderita limfoma.

Diagnosa:

Sebagai langkah awal, dokter akan menanyakan tentang keluhan, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga pasien. Kemudian, dokter akan melakukan beberapa tes dan prosedur untuk mendiagnosis limfoma non-Hodgkin. Tes tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa apakah terdapat pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan pangkal paha. Pemeriksaan juga dilakukan dengan perabaan terhadap organ limpa dan hati di dalam rongga perut.
  • Tes darah. Sampel darah diambil untuk memeriksa kondisi tubuh secara keseluruhan, seperti jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit di dalam darah, serta fungsi ginjal dan hati. Pemeriksaan enzim lactate dehydrogenase (LDH) juga diperiksa, karena seringkali LDH meningkat pada pasien limfoma.
  • Biopsi kelenjar getah bening. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sebagian atau seluruh kelenjar getah bening untuk dianalisis di laboratorium. Hasil analisis tersebut akan mengungkapkan apakah pasien memiliki limfoma non-Hodgkin atau tidak. Pemeriksaan biopsi akan diikuti dengan pemeriksaan imunofenotipe atau imunohistokimia, yaitu pemeriksaan antibodi yang menempel pada jaringan tersebut. Pemeriksaan ini berguna dalam menentukan pengobatan.
  • Pencitraan. Beberapa jenis pencitraan yang mungkin dilakukan untuk mendiagnosis limfoma non-Hodgkin, antara lain:
    • Foto Rontgen. Untuk mendeteksi apakah sel kanker telah menyebar ke dada atau paru-paru.
    • USG. Pemeriksaan USG perut dapat mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening di dalam rongga perut.
    • CT scan. CT scan digunakan untuk mendeteksi penyebaran sel kanker melalui kumpulan hasil foto Rontgen dalam 3 dimensi.
    • MRI. Menghasilkan gambar lebih detail dari penyebaran limfoma non-Hodgkin dalam tubuh.
    • PET scan. Pencitraan ini dapat mengukur aktivitas sel di berbagai bagian tubuh dan mendeteksi penyebaran kanker, serta respons terhadap pengobatan.
  • Aspirasi sumsum tulang. Untuk melihat adanya penyebaran limfoma ke sumsum tulang dengan mengambil sampel darah dan jaringan sumsum tulang yang terletak pada tulang panggul bagian belakang (di sekitar bokong).
  • Pungsi lumbal. Prosedur biopsi sumsum tulang dilakukan dengan memasukkan sebuah jarum ke tulang belakang bagian bawah untuk mengambil sampel cairan sistem saraf tulang belakang. Sampel ini akan dianalisis untuk mencari sel-sel limfoma.

Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan dan memastikan diagnosis, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi (KHOM) akan menentukan stadium kanker yang diderita pasien. Penentuan stadium kanker dapat membantu dokter menentukan prognosis dan pilihan metode pengobatan. Limfoma non-Hodgkin terbagi menjadi 4 stadium dan ditentukan berdasarkan penyebaran sel kanker, yaitu:

  • Stadium 1 – kanker menyerang salah satu kelompok kelenjar getah bening, misalnya hanya kelompok kelenjar getah bening pada lipat paha atau leher.
  • Stadium 2 – kanker menyerang dua kelompok kelenjar getah bening atau lebih, namun masih satu bagian tubuh. Bagian tubuh dalam stadium limfoma dipisahkan oleh diafragma, yaitu di atas atau di bawah diafragma. Diafragma adalah otot yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
  • Stadium 3 – kanker sudah berada di kelompok kelenjar getah bening di atas dan di bawah diafragma.
  • Stadium 4 – kanker sudah menyebar keluar dari sistem limfatik dan masuk ke sumsum tulang atau organ lain, seperti hati atau paru-paru.

Komplikasi Limfoma Non-Hodgkin

Penderita limfoma non-hodgkin yang telah melalui proses pengobatan atau bahkan telah dinyatakan sembuh, tetap memiliki risiko mengalami komplikasi. Beberapa jenis komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Sistem kekebalan tubuh melemah. Jenis komplikasi yang paling sering dialami oleh penderita limfoma non-hodgkin. Melemahnya sistem kekebalan tubuh akan semakin parah selama penderita menjalani pengobatan. Jika sistem kekebalan tubuh melemah, maka tubuh akan semakin rentan terhadap berbagai infeksi dan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius.
  • Risiko kemandulan meningkat. Prosedur kemoterapi dan radioterapi dapat memicu meningkatnya risiko kemandulan, baik yang bersifat sementara atau permanen.
  • Risiko munculnya kanker lain meningkat. Kemoterapi dan radioterapi tidak hanya dapat membunuh sel kanker, namun juga membunuh sel-sel sehat, sehingga risiko munculnya kanker di kemudian hari semakin meningkat.
  • Risiko munculnya gangguan kesehatan lain meningkat. Pengobatan limfoma non-Hodgkin juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain, seperti:
    • Katarak.
    • Diabetes.
    • Penyakit tiroid.
    • Penyakit jantung.
    • Penyakit paru-paru.
    • Penyakit ginjal.

Faktor-faktor tertentu yang meningkatkan risiko Anda mengalami non-Hodgkin lymphoma  yaitu:

  • Sistem kekebalan tubuh yang melemah: jika Anda melakukan transplantasi organ, Anda rentan terhadap limfoma non-Hodgkin. hal ini karena terapi imunosupresif mengurangi kemampuan untuk melawan penyakit pada tubuh.
  • Infeksi beberapa virus dan bakteri: limfoma non-Hodgkin terkait dengan virus HIV, virus Epstein-Barr dan bakteri Helicobacter pylori (bakteri yang menyebabkan tukak lambung).
  • Kimia: paparan berlebihan terhadap bahan kimia seperti herbisida dan pestisida meningkatkan risiko limfoma non-Hodgkin.
  • Umur: orang tua (di atas 60 tahun) sering berisiko terinfeksi karena sistem kekebalan tubuh mereka mulai melemah.

Pengobatan:

Setiap penderita limfoma non-Hodgkin menjalani metode pengobatan yang berbeda. Metode pengobatan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa faktor, antara lain:

  • Stadium dan tahap perkembangan limfoma yang diderita oleh pasien.
  • Usia pasien.
  • Kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Penderita dengan limfoma non-Hodgkin yang berkembang lambat (indolent lymphomas), umumnya akan menjalani pemantauan secara saksama tanpa pengobatan apa pun. Dokter akan menjadwalkan pemeriksaan secara rutin selama beberapa bulan untuk memantau dan memastikan bahwa kanker tidak memburuk.

Jika limfoma non-Hodgkin yang dialami pasien bersifat agresif atau menyebabkan gejala dan tanda yang semakin memburuk, maka dokter akan merekomendasikan beberapa metode pengobatan, antara lain:

  • Kemoterapi. Jenis pengobatan yang paling sering digunakan untuk menangani limfoma non-Hodgkin. Obat-obatan yang diberikan dapat membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi terkadang dikombinasikan dengan pemberian obat kortikosteroid guna meningkatkan efektivitasnya. Namun, penggunaan kortikosteroid hanya diperbolehkan untuk jangka pendek.
  • Terapi antibodi monoklonal. Dikenal dengan nama obatnya rituximab, berguna untuk meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan dan menghancurkan sel-sel kanker. Namun, langkah ini hanya efektif untuk beberapa jenis limfoma non-Hodgkin, tergantung dari hasil imunofenotipe. Terapi antibodi monoklonal akan dikombinasikan dengan kemoterapi dalam terapi limfoma non-Hodgkin.
  • Radioterapi. Radioterapi biasanya digunakan untuk mengobati stadium awal limfoma non-Hodgkin, saat kanker baru menyerang satu bagian tubuh. Radioterapi dilakukan dengan menggunakan sinar radiasi dosis tinggi, seperti sinar-X dan proton, untuk membunuh sel kanker. Sinar tersebut diarahkan ke bagian kelenjar getah bening yang mengalami kanker dan area sekitarnya. Umumnya, terapi radiasi berlangsung selama 30 menit pada setiap kunjungan.
  • Transplantasi sumsum tulang. Metode pengobatan ini melibatkan prosedur kemoterapi dan radioterapi untuk menekan sumsum tulang. Kemudian, sel induk sumsum tulang yang sehat dari tubuh pasien atau dari donor dicangkokkan ke dalam tubuh pasien, agar membentuk kembali sumsum tulang yang sehat.

Pencegahan:

Tindakan pencegahan terhadap limfoma non-Hodgkin belum diketahui hingga saat ini. Namun, cara terbaik untuk mencegah limfoma non-Hodgkin adalah mencegah faktor risikonya, seperti mencegah HIV.

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi limfoma non-Hodgkin:

  • Periksakan kembali diri Anda ke dokter untuk memantau perkembangan gejala serta kesehatan Anda.
  • Gunakan obat Anda seperti yang disarankan oleh dokter Anda, jangan menggunakan obat tanpa seizin dokter atau tidak menggunakan obat resep yang diresepkan untuk Anda.
  • Beri tahu dokter Anda tentang semua obat yang Anda pakai.
  • Beritahu dokter Anda jika Anda sedang hamil atau menyusui
  • Rawatlah gigi Anda untuk mencegah sariawan.
  • Pertimbangkan menyimpan sel sperma atau sel telur ke bank sperma/telur jika Anda berencana untuk memiliki anak.

a444d37a06d1040d95dd1d1abdb45143_medicaboo-card

Medicaboo : Aplikasi kesehatan di Google Play untuk Android

Yuk, Download Aplikasi Medicaboo!

Untuk mengetahui informasi rumah sakit, layanan kesehatan, dan dokter di Pekanbaru dengan mudah dan cepat! Akses website direktori rumah sakit di http://www.medicaboo.com atau tinggal klik di sini. Download aplikasi kesehatan Medicaboo android di Google Playstore.

Tags : #Faktaunikmedicaboo #Faktakesehatan #Medicaboo #Kesehatan #Healthfacts #penyakit #Limfomanon-Hodgkin

 

Facebook Comments
Share & Follow

More in Penyakit

  • Otitis Eksterna Otitis Eksterna

    Penyakit

    Otitis Eksterna

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter , Klikdokter dan Hellosehat mengenai Otitis Eksterna. Defenisi: Otitis eksterna adalah peradangan...

  • Osteoarthritis / Pengapuran Sendi Osteoarthritis / Pengapuran Sendi

    Penyakit

    Osteoarthritis / Pengapuran Sendi

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter dan Hellosehat mengenai Osteoarthritis. Defenisi: Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang menyebabkan sendi-sendi...

  • OCD (Obsessive Compulsive Disorder) OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

    Penyakit

    OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter dan Hellosehat mengenai OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Defenisi: Gangguan obsesif kompulsif atau...

  • Osteosarcoma Osteosarcoma

    Penyakit

    Osteosarcoma

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter dan Hellosehat mengenai Osteosarcoma. Defenisi: Osteosarcoma adalah salah satu jenis kanker tulang...

  • Orchitis Orchitis

    Penyakit

    Orchitis

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter dan Hellosehat mengenai Orchitis. Defenisi: Orchitis adalah peradangan atau inflamasi akut pada...

  • Obesitas Obesitas

    Penyakit

    Obesitas

    By

    Informasi ini dirangkum dari Klikdokter ,Aldokter dan Hellosehat mengenai Defenisi: Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat...

  • Nyeri Sendi Nyeri Sendi

    Penyakit

    Nyeri Sendi

    By

    Informasi ini dirangkum dari Aldokter dan Docdoc mengenai Nyeri Sendi. Defenisi: Sendi adalah area hubungan antartulang....

  • Nyeri Haid Nyeri Haid

    Penyakit

    Nyeri Haid / Dismenore

    By

    Informasi ini dirangkum dari Klikdokter ,Aldokter dan Hellosehat mengenai Nyeri Haid. Defenisi: Nyeri haid atau dismenorea adalah...

  • Neuropati Neuropati

    Penyakit

    Neuropati

    By

    Informasi ini dirangkum dari Klikdokter ,Aldokter dan Hellosehat mengenai Neuropati. Defenisi: Neuropati adalah istilah umum yang digunakan...

  • Neurodermatitis Neurodermatitis

    Penyakit

    Neurodermatitis

    By

    Informasi ini dirangkum dari Klikdokter ,Aldokter dan Hellosehat mengenai Neurodermatitis. Defenisi: Neurodermatitis / Lichen Simpleks Kronik adalah penyakit kulit...

Populars

Cantengan

Gaya Hidup Sehat

Cantengan / Paronychia

By Maret 7, 2018
angioedema

Diet

Angioedema Herediter

By Desember 22, 2017
aneurisma-aorta-ilustrasi-2-foto-shutterstock

Gaya Hidup Sehat

Aneurisma Aorta Dada

By Desember 14, 2017

Tags

Categories

To Top