Connect with us

Gaya Hidup Sehat

Dystonia

Dystonia

Dystonia

Informasi ini dirangkum dari Alodokter, dan docdoc mengenai Dystonia.

Defenisi :

Dystonia adalah kondisi medis yang dikaraterisasikan dengan kontraksi otot secara tidak sadar yang disebabkan postur abnormal dan gerakan yang berulang.

Dalam beberapa kasus, gerakan yang mirip dengan getaran. Gerakan secara sengaja pada otot yang sakit akan membuat kondisi semakin parah dan menyebar ke otot terdekat. Penyebab pasti dari dystonia belum berhasil ditentukan, namun para peneliti percaya bahwa ketidakmampuan otak untuk melakukan fungsinya berperan dalam mengembangkan kondisi ini. Penyebab lainnya yang memungkinkan adalah kecelakaan (menyebabkan cedera yang memengaruhi otak) dan keturunan. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan kondisi ini, bahkan jika hanya salah satu orang tuanya yang memiliki gen abnormal yang terkait dengan dystonia.

Oleh karena itu, dystonia diklasifikasikan menjadi tiga jenis: idiopatik, genetik, dan diperoleh. Dystonia idiopatik mengacu pada kondisi di mana penyebab pastinya tidak dapat ditentukan. Dystonia genetik mengacu pada kasus di mana kondisi ini diturunkan oleh orang tua ke anak. Dystonia yang diperoleh adalah akibat sekunder dari kecelakaan, seperti cedera kepala, hipoksia (kurangnya oksigen ke otak), infeksi, stroke, atau pendarahan otak neonatal.

Selain dari tiga klasifikasi utama, dystonia juga diklasifikasikan menurut bagian tubuh yang terkena dystonia:

  • Generalized dystonia mengacu pada kondisi di mana kebanyakan bagian tubuh terpengaruh.
  • Focal dystonia merupakan kondisi di mana hanya bagian tubuh tertentu yang terpengaruh.
  • Multifocal dystonia adalah kondisi di mana dua atau lebih bagian tubuh terpisah terpengaruh.
  • Segmental dystonia adalah istilah medis di mana bagian tubuh yang saling berdekatan terpengaruh.
  • Hemidystonia adalah kondisi di mana lengan dan kaki, baik bagian kanan atau kiri terpengaruh.

Ada beberapa komplikasi yang mungkin dapat dialami oleh penderita dystonia, tergantung pada jenis dan lokasinya. Komplikasi-komplikasi tersebut meliputi:

  • Keterbatasan gerak, sehingga kesulitan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari
  • Kesulitan menggerakan rahang, menelan, atau berbicara
  • Kelelahan dan rasa sakit akibat kontraksi otot berlebihan
  • Kebutaan (jika dystonia menyerang kelopak mata)
  • Masalah psikologis (cemas, depresi, atau bahkan menarik diri dari masyarakat)

Selain itu, ada juga beberapa kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi setelah melakukan operasi, seperti berhentinya elektroda atau kesalahan pemasangan baterai dalam operasi stimulasi otak, atau pembengkakan, nyeri seperti tertusuk-tusuk, dan infeksi pada bagian leher setelah melakukan operasi denervasi selektif.

Gejala :

Gejala dystonia sangat bervariasi, tergantung dari jenis dystonia serta waktu awal kejadiannya (onsetnya). Berdasarkan waktu, dystonia dibagi menjadi dua, yakni dystonia onset dini dan dystonia onset lambat.

Pada dystonia onset dini, gejala awal akan muncul pada usia anak-anak atau remaja. Gejala biasanya akan bermula dari lengan atau kaki sebelum akhirnya menyebar ke bagian tubuh lainnya. Berikut adalah beberapa jenis dystonia onset dini serta gejala-gejalanya.

  • Dystonia generalisasi: Dystonia generalisasi kerap menyerang anak-anak menjelang remaja, dan gejalanya biasanya dimulai dari bagian otot kaki sebelum menyebar ke anggota tubuh lainnya. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain kram otot, postur tubuh bengkok dan tidak normal, kaki dan tangan menekuk ke arah dalam, dan kejang.
  • Dystonia dopa-responsive:Dystonia dopa-responsive termasuk dalam kelompok dystonia generalisasi, dan biasanya menyerang kelompok usia 6-16 tahun. Gejala yang paling sering dijumpai adalah cara berjalan yang kaku dan aneh. Telapak kaki bisa menekuk ke arah atas, atau bisa menekuk ke arah luar. Gejala lain seperti kaku otot dan kram di lengan dan pundak dapat terjadi, meski jarang.
  • Dystonia myoclonus: Ini merupakan jenis dystonia yang jarang, di mana bagian tubuh seperti lengan, leher, dan pundak bisa terserang. Biasanya, dystonia ini menyerang dua bagian tubuh yang berkaitan (dystonia segmental), dan menimbulkan gejala seperti hentakan tiba-tiba seperti orang tersengat listrik.
  • Dystonia paroxysmal:Jenis dystonia ini paling jarang dijumpai, dan gejalanya biasanya adalah gerakan kejang mendadak yang dapat terjadi pada kondisi tertentu seperti stres atau kelelahan. Gejala ini kerap disamakan dengan penyakit epilepsi, namun dalam kondisi ini penderita masih sadar dan dapat mengalami kejang selama beberapa menit hingga jam.

Sedangkan untuk dystonia onset lambat, gejala awal mulai muncul pada usia dewasa, dan serangan biasanya dimulai dari kepala, leher atau lengan dan tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Gejala late onset tidak menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Yang termasuk dystonia onset lambat adalah:

  • Dystonia servikal: Dystonia servikal atau yang disebut juga dengan tortikolis adalah dystonia yang hanya menyerang 1 bagian tubuh (dystonia fokal), yakni leher. Kontraksi di leher dapat menyebabkan leher berputar ke atas (mendongak), ke bawah (menunduk), atau ke samping.
  • Blefarospasme: Blefarospasme adalah kondisi di mana terjadi kelemahan otot di sekitar mata, sehingga mata akan secara tidak sadar terpejam. Pada beberapa kasus yang parah, pasien sampai tidak mampu membuka matanya.
  • Kram penulis (Writer’s cramp):Kram penulis atau yang disebut dengan task-specific dystonia adalah dystonia yang mengakibatkan gerakan gemetar (tremor) tanpa sadar pada bagian otot lengan dan pergelangan tangan. Gejala ini kerap menyerang penulis, musisi, pemain golf hingga seseorang yang sering mengetik dengan frekuensi berlebihan.
  • Dystonia laring: Pada dystonia laring, otot di sekitar pita suara (laring) akan menjadi kaku, sehingga akan menghasilkan suara seperti “tercekik” atau “tersengal-sengal”, Suara yang dihasilkan ini pun tergantung otot laring menjadi kaku ke arah luar atau dalam.
  • Dystonia Oromandibular: Dystonia oromandibular adalah jenis dystonia yang menyerang area otot wajah bagian bawah, lidah, atau rahang. Gerakan-gerakan yang bisa ditimbulkan antara lain adalah meringis, bibir mengerut, rahang terbuka dan tertutup secara berulang-ulang, serta terdapat gerakan lidah spontan yang tidak dapat dikontrol. Pasien biasanya juga akan mengalami kesulitan untuk menelan makanan.
  • Kejang hemifasial:Gejala yang muncul antara lain adalah kedutan yang berulang-ulang pada satu sisi wajah, biasanya pada bagian mata atau mulut.

Penyebab :

Berdasarkan penyebabnya, dystonia dibagi menjadi dua kategori, yaitu dystonia primer dan dystonia sekunder.

Dystonia primer adalah dystonia yang penyebabnya belum diketahui dengan jelas, namun beberapa dari kasusnya diketahui disebabkan oleh mutasi genetik atau keturunan, dan biasanya terjadi dalam usia belia.

Dystonia sekunder dapat terjadi akibat berbagai kondisi pemicu seperti

  • Gangguan pada sistem saraf – contohnya adalah pada penderita penyakit Parkinson dan sklerosis ganda.
  • Gangguan pada otak – contohnya adalah kelumpuhan otak (cerebral palsy) yang seringkali terjadi sebelum atau sesaat setelah lahir, tumor otak, dan stroke.
  • Infeksi – infeksi yang bisa menyebabkan dystonia antara lain adalah HIV dan radang otak atau
  • Obat-obatan – obat-obatan yang dimaksud adalah jenis antipsikosa (obat untuk mengatasi gangguan mental) atau obat antikejang (digunakan untuk mengatasi epilepsi).
  • Penyakit Wilson’s – kondisi di mana terjadi penumpukan tembaga di jaringan tubuh.
  • Penyakit Huntington’s – penyakit keturunan yang bisa berakibat pada gangguan mental.
  • Trauma – biasanya cedera yang menyerang tulang tengkorak atau tulang belakang.

Dystonia sendiri bukanlah kondisi medis yang sering dijumpai. Tercatat, dystonia menyerang 1% populasi dunia, dengan jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Sayangnya, masih belum ada data mengenai angka kejadian dystonia di kawasan Asia, terutama di Indonesia.

Diagnosis :

Untuk menegakkan diagnosis dystonia, dokter biasanya memerlukan beberapa tahapan guna menentukan penyebab utama dari dystonia tersebut. Dokter mungkin akan menanyakan beberapa hal seperti:

  • Usia saat gejala muncul untuk pertama kalinya
  • Urut-urutan bagian tubuh yang terkena
  • Apakah penyakit memburuk secara cepat

Dari berbagai pertanyaan tersebut, dokter kemungkinan akan dapat membedakan apakah Anda menderita dystonia primer atau sekunder. Apabila Anda dicurigai menderita dystonia sekunder, Anda mungkin akan disarankan untuk menjalani berbagai pemeriksaan tambahan sebagai berikut guna mencari tahu penyebab utama dari dystosia.

  • Tes urin dan sampel darah – tes ini bertujuan untuk memeriksa fungsi organ tubuh, misalnya hati, serta untuk melihat apakah ada proses infeksi atau kadar senyawa beracun di dalam tubuh Anda.
  • Tes genetik – pengambilan sampel DNA biasanya digunakan untuk mencari tahu apakah Anda memiliki kelainan gen yang berhubungan dengan dystonia. Tes DNA juga dapat menentukan apakah dystonia Anda disebabkan oleh penyakit genetik seperti penyakit Huntington’s.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) – tes pencitraan ini berguna untuk memeriksa apakah ada gangguan atau kerusakan di otak, dan dapat berguna juga untuk mendeteksi adanya tumor di otak.
  • Electromyography (EMG) – tes ini berfungsi untuk mengukur aktivitas aliran listrik di dalam otot.

Pengobatan :

Dystonia tidak bisa disembuhkan, namun ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, yaitu melalui:

  • Suntikan Botox (Botulinum Toxin): Botulinum toxin bekerja dengan cara menghambat senyawa-senyawa penyebab kekakuan/spasme otot sehingga tidak mencapai target otot sasaran. Botulinum toxindiberikan secara suntikan, dan dilakukan langsung pada area yang terkena. Efek suntikan botox akan bertahan selama dua hingga tiga bulan sebelum dilakukan suntikan ulangan. Suntikan botox biasanya diberikan pada dystonia fokal atau dystonia
  • Obat-obatan:Obat-obatan yang diberikan adalah jenis obat yang bekerja untuk menghambat sinyal-sinyal di otak yang merangsang kekakuan otot. Dokter mungkin akan meresepkan beberapa macam obat sesuai dengan kondisi penderita, seperti levodopa (untuk mengontrol gerakan motorik dan bisa juga diberikan pada penderita penyakit Parkinson), obat antikolinergik (untuk menghambat kimia asetilkolin penyebab kejang otot), balcofen (untuk mengontrol kejang dan juga bisa diberikan pada penderita lumpuh otak atau sklerosis ganda), diazepam (untuk menimbulkan efek relaksasi), tetrabenazine (untuk menghambat dopamin), dan clonazepam (untuk mengurangi gejala pergerakan otot yang berlebihan).
  • Fisioterapi: Dokter mungkin juga akan menyarankan untuk melakukan terapi seperti fisioterapi, pijat atau peregangan otot untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik untuk mengurangi kontraksi otot, hingga latihan pernapasan dan yoga.
  • Operasi: Terdapat dua jenis operasi yang mungkin disarankan dokter jika tidak ada pengobatan yang berhasil, di antaranya adalah operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif. Dalam operasi stimulasi otak, dokter akan menanamkan elektroda atau baterai pada otak dan menggabungkannya dengan listrik dalam tubuh untuk menghambat gejala dystonia. Sedangkan dalam operasi denervasi selektif, dokter akan memotong saraf penyebab kejang otot untuk menghentikan gejala secara permanen.

Sebelum melakukan terapi atau mengkonsumsi obat-obatan apa pun, pastikan Anda sadar dengan kemungkinan terjadinya efek samping, seperti mengantuk, mual, bingung, kesulitan menelan, penglihatan ganda, perubahan suara, mulut mengering, konstipasi, kesulitan buang air kecil, kesulitan mengingat, hingga kehilangan keseimbangan. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui efek samping yang mungkin terjadi sesuai dengan kondisi Anda.

a444d37a06d1040d95dd1d1abdb45143_medicaboo-card

Medicaboo : Aplikasi kesehatan di Google Play untuk Android

Yuk, Download Aplikasi Medicaboo!

Untuk mengetahui informasi rumah sakit, layanan kesehatan, dan dokter di Pekanbaru dengan mudah dan cepat! Akses website direktori rumah sakit di http://www.medicaboo.com atau tinggal klik di sini. Download aplikasi kesehatan Medicaboo android di Google Playstore.

Tags : #Faktaunikmedicaboo #Faktakesehatan #Medicaboo #Kesehatan #Healthfacts 

Facebook Comments
Share & Follow

More in Gaya Hidup Sehat

  • Divertikulitis Divertikulitis

    Gaya Hidup Sehat

    Divertikulitis

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Divertikulitis. Defenisi: Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi yang terjadi...

  • Disentri Disentri

    Gaya Hidup Sehat

    Disentri

    By

    Informasi ini dirangkum dari Google Medical Information, Hellosehat, dan Alodokter mengenai Disentri Defenisi: Disentri adalah penyakit pada...

  • Disleksia Disleksia

    Gaya Hidup Sehat

    Disleksia

    By

    Informasi ini dirangkum dari Google Medical Information, Alodokter, dan docdoc mengenai Disleksia. Defenisi: Disleksia adalah suatu gangguan...

  • Difteri Difteri

    Gaya Hidup Sehat

    Difteri

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter, Hellosehat dan Google Medical Information mengenai Difteri. Defenisi: Difteri adalah infeksi menular...

  • Diare Diare

    Gaya Hidup Sehat

    Diare

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Diare. Defenisi: Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan...

  • Dry Socket Dry Socket

    Gaya Hidup Sehat

    Dry Socket

    By

    Informasi ini dirangkum dari Hellosehat, dan Alodokter mengenai Dry Socket. Defenisi : Dry socket / alveolar osteitis...

  • Disaselerasi Disaselerasi

    Gaya Hidup Sehat

    Dilaserasi

    By

    Informasi ini dirangkum dari klik dokter, halosehat, dan halogigi mengenai Dilaserasi. Pengertian : Gigi bengkok (dilaserasi)...

  • Dermatitis Kontak Dermatitis Kontak

    Gaya Hidup Sehat

    Dermatitis Kontak

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Dermatitis Kontak. Defenisi: Dermatitis kontak adalah peradangan pada...

  • Gejala Demam Kuning Gejala Demam Kuning

    Gaya Hidup Sehat

    Demam Kuning

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Demam Kuning . Defenisi: Demam kuning atau yellow fever adalah jenis...

  • Croup / Laringotrakeobronkitis Croup / Laringotrakeobronkitis

    Gaya Hidup Sehat

    Croup / Laringotrakeobronkitis

    By

    Informasi ini dirangkum dari bukusakudokter.com, Alodokter, dan Hellosehat mengenai Croup / Laringotrakeobronkitis. Defenisi: Croup (Laringotrakeobronkitis) adalah suatu infeksi...

Populars

Cantengan

Gaya Hidup Sehat

Cantengan / Paronychia

By Maret 7, 2018
angioedema

Diet

Angioedema Herediter

By Desember 22, 2017
aneurisma-aorta-ilustrasi-2-foto-shutterstock

Gaya Hidup Sehat

Aneurisma Aorta Dada

By Desember 14, 2017

Tags

Categories

To Top