Connect with us

Gaya Hidup Sehat

Divertikulitis

Divertikulitis

Divertikulitis

Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Divertikulitis.

Defenisi:

Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi yang terjadi pada divertikula, yaitu kantung-kantung yang terbentuk di sepanjang saluran percernaan, terutama di usus besar (kolon).

Kondisi terbentuknya divertikula di dinding usus besar disebut juga dengan divertikulosis. Divertikula umumnya terbentuk pada orang berusia 40 tahun ke atas karena ususnya sudah melemah, serta pada orang-orang yang jarang mengonsumsi makanan berserat, seperti sayur dan buah.

Diverkulitis dapat menjadi radang minor maupun infeksi serius. Komplikasi meliputi perdarahan dari usus besar (kolon), pecahnya dinding kolon, usus tersumbat, dan abses.

Usus besar (kolon) adalah bagian akhir pada saluran pencernaan yang melakukan tugas penting dalam menyerap air dan vitamin dan mengubah makanan yang dicerna menjadi feses. Makanan melewati usus besar sebelum keluar dari tubuh sebagai feses.

Pada penyakit divertikular, beberapa bagian dari dinding kolon lemah. Bagian yang lemah ini dapat menggembung seperti kantung-kantung kecil. Bagian-bagian ini dapat menjadi kemerahan dan bengkak (meradang) dan terinfeksi.

Divertikulitis umum ditemui. Penelitian menunjukkan 3 dari setiap 100 orang memiliki diverkulitis. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Diverkulitis dapat ditangani dengan mengurangi fator-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Gejala:

Divertikulitis biasanya diawali dengan gejala penyakit divertikulosis, yang meliputi:

  • Nyeri pada perut. Rasa nyeri akan lebih terasa sesaat setelah makan atau ketika bergerak.
  • Sembelit, diare, atau keduanya.
  • Perut kembung atau perut terasa dipenuhi gas.
  • Terkadang buang air besar disertai lendir.

Kadang divertikulosis dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala. Namun, divertikulosis yang sudah mengalami peradangan dan menjadi divertikulitis, akan menimbulkan gejala:

  • Demam.
  • Nyeri perut yang semakin parah dan berkelanjutan.
  • Mual dan muntah.
  • Buang air besar berdarah.

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Nyeri pada perut
  • Demam atau menggigil
  • Mual dan muntah
  • Perubahan yang tidak biasa pada saat buang air atau bengkak pada perut
  • Darah pada feses
  • Nyeri yang memburuk apabila Anda bergerak
  • Perih saat urinasi
  • Cairan vagina yang abnormal.

Penyebab:

Penyakit ini dapat terjadi apabila pencernaan makanan bergerak terlalu lambat melalui usus besar. Tekanan pada kolon dari feses dan makanan menyebabkan beberapa titik menjadi lemah.

Dinding kolon yang lemah menyebabkan diverkulitis. Struktur yang melemah mengakibatkan abses-abses kecil pada dinding kolon. Abses ini kemudian meradang dan terinfeksi, yang menyebabkan gejala. Diverkulitis tidak menular maupun mengakibatkan kanker.

Akibat feses atau makanan yang tidak tercerna dengan baik terjebak di dalam divertikula dan menyumbat divertikula tersebut. Penyumbatan ini membuat divertikula membengkak serta timbul robekan-robekan kecil pada dinding usus besar. Bakteri usus besar normal yang ada di dalamnya juga berkembang melebihi dari biasanya dan bisa menimbulkan infeksi.

Divertikula yang terbentuk tersebut juga belum diketahui penyebabnya. Pola makan yang rendah serat, konstipasi, dan obesitas diduga berhubungan dengan terbentuknya divertikula dalam usus besar.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peradangan pada divertikula, antara lain:

  • Usia. Risiko terkena divertikulitis akan semakin tinggi seiring pertambahan usia.
  • Faktor genetik. Genetik dipercaya berhubungan dengan terjadinya divertikulitis, dibuktikan dengan divertikulitis yang terjadi di Asia lebih dominan terjadi di sisi kanan, sedangkan di Amerika Serikat lebih sering terjadi di sisi kiri perut.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu. Penggunaan aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid secara rutin dapat meningkatkan risiko divertikulitis.
  • Obesitas. Berat badan yang berlebih meningkatkan risiko divertikulitis dan perdarahan.
  • Diet rendah serat. Selain berisiko terbentuk divertikula, terlalu sedikit makan makanan yang banyak mengandung serat berisiko menimbulkan peradangan pada divertikula yang terbentuk.
  • Merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko dan komplikasi divertikulitis.
  • Kurang olahraga. Olahraga dapat menurunkan risiko seseorang menderita divertikulitis.

Ada banyak faktor risiko untuk diverkulitis, yaitu:

  • Mengonsumsi makanan yang rendah serat
  • Memiliki sejarah keluarga terhadap diverkulitis
  • Penggunaan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) atau aspirin secara rutin (lebih dari 4 hari seminggu) selama bertahun-tahun.

Komplikasi Divertikulitis

Divertikulitis dapat menyebabkan komplikasi yang bersifat serius, bahkan dapat mengancam nyawa penderita. Beberapa jenis komplikasi yang mungkin muncul, meliputi:

  • Abses, muncul ketika terbentuk kumpulan nanah di dalam kantung usus (divertikula).
  • Fistula, muncul ketika terbentuk saluran tidak normal antara usus besar dengan kandung kemih, vagina, atau usus kecil.
  • Obstruksi usus, yaitu penyempitan yang terjadi pada usus besar akibat peradangan, sehingga menyebabkan tersumbatnya jalan keluar feses.
  • Perforasi dan peritonitis, yaitu kondisi peradangan atau infeksi di dalam rongga perut (peritonitis) yang terjadi akibat robeknya divertikula (perforasi), sehingga menumpahkan isi usus ke dalam rongga perut.

Diagnosa:

Langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis divertikulitis adalah memeriksa riwayat kesehatan dan gejala yang dialami oleh pasien.

Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama  dengan memeriksa bagian perut penderita untuk mendeteksi letak peradangan atau infeksi di dalam rongga perut. Lokasi peradangan dapat terdeteksi dengan rasa nyeri ketika perut ditekan. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan colok dubur, untuk melihat adanya perdarahan.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan tambahan tersebut meliputi:

  • Tes darah. Untuk melihat kemungkinan terjadi infeksi atau perdarahan di usus besar penderita, serta pemeriksaan fungsi hati untuk mendeteksi apakah nyeri perut disebabkan oleh gangguan hati atau tidak.
  • Tes urine. Tes urine dilakukan untuk menunjukkan apakah penderita mengalami infeksi saluran kemih.
  • Tes kehamilan. Untuk memastikan bahwa sakit perut yang dialami penderita wanita bukan disebabkan oleh kehamilan.
  • Tes darah samar pada sampel tinja. Untuk memeriksa apakah tinja penderita mengandung darah.
  • CT scan. Untuk menunjukkan secara detail kantung-kantung yang mengalami peradangan atau infeksi dan memastikan diagnosis. CT scan juga dapat menunjukkan tingkat keparahan divertikulitis.

Kolonoskopi tidak dianjurkan dilakukan ketika divertikulosis meradang, karena berisiko menimbulkan robek atau pecahnya divertikula yang meradang. Kolonoskopi dilakukan ketika dokter ingin mengevaluasi divertikulosis saat tidak meradang, atau dokter mencurigai adanya tumor di dalam usus besar.

Pengobatan:

Penanganan divertikulitis biasanya dilakukan berdasarkan tingkat keparahan divertikulitits yang dialami pasien. Jika penderita mengalami gejala ringan dan tidak ada tanda komplikasi, maka jenis pengobatan yang dilakukan meliputi:

  • Pemberian obat, yaitu antibiotik untuk mengobati infeksi dan penghilang rasa sakit, seperti paracetamol.
  • Diet tinggi cairan dan rendah serat. Diet ini dilakukan hingga nyeri sudah menghilang. Ketika nyeri sudah menghilang, perlahan-lahan tambahkan serat dalam makanan.

Jika gejala yang dirasakan semakin parah atau divertikulitis telah mengalami komplikasi, maka penderita perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Penanganan yang dilakukan, antara lain:

  • Infus cairan dan nutrisi. Untuk mengistirahatkan usus, pasien akan diminta puasa selama seminggu. Nutrisi dan cairan akan diberikan melalui infus.
  • Antibiotik suntik, untuk mengobati infeksi.
  • Pemasangan selang ke lambung (NGT), selang ini biasanya diberikan untuk pemberian makan, namun dalam kasus divertikulitis bertujuan untuk mengosongkan isi lambung.
  • Operasi. Prosedur operasi dilakukan oleh dokter bedah, pada pasien yang memiliki gangguan dalam sistem kekebalan tubuh, mengalami divertikulitis berulang, atau terjadi komplikasi. Ada 2 jenis prosedur pembedahan divertikulitis, yaitu:
    • Reseksi usus dan anastomosis. Prosedur operasi yang dilakukan dengan membuang bagian usus yang meradang dan menyambungkan kembali dengan bagian usus yang sehat (anastomosis).
    • Reseksi usus dengan kolostomi. Jika area peradangan cukup luas, usus besar dan rektum akan sulit untuk disambungkan, maka dokter akan melakukan prosedur kolostomi. Setelah membuang usus yang mengalami peradangan, sebuah lubang akan dibuat di dinding perut untuk mengeluarkan feses, sehingga orang tersebut tidak buang air besar melalui anus.

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi divertikulitis:

  • Olahraga rutin. Olahraga mendorong fungsi usus yang normal serta mengurangi tekanan pada usus besar. Cobalah untuk berolahraga setidaknya 30 menit pada beberapa hari.
  • Konsumsi lebih banyak serat. Makanan kaya akan serat, seperti buah dan sayuran segar, serta gandum utuh, dapat melunakkan materi pembuangan dan membantu melewati usus besar dengan lebih cepat. Hal ini mengurangi tekanan di dalam saluran pencernaan. Namun, tidak pasti apakah pola makan tinggi serat dapat mengurangi risiko divertikulitis. Mengonsumsi biji-bijian serta kacang-kacangan tidak menyebabkan divertikulitis.
  • Minum banyak cairan. Serat bekerja dengan menyerap air dan melunakkan kotoran pada usus besar. Namun jika Anda tidak minum cairan yang cukup untuk mengganti yang diserap, serat dapat menyebabkan sembelit.

Pencegahan :

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah divertikulitis, antara lain:

  • Konsumsi makanan tinggi serat. Makanan tinggi serat bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan mengurangi tekanan di dalam saluran pencernaan. Beberapa jenis makanan tinggi serat, meliputi gandum, oatmeal, sayuran, dan buah-buahan.
  • Perbanyak minum air. Serat bekerja dengan cara menyerap air. Jika konsumsi cairan untuk mengganti apa yang sudah terserap tidak cukup, dapat terjadi konstipasi.
  • Olahraga secara rutin. Olahraga dapat membantu menjaga fungsi usus dan mengurangi tekanan di dalam usus besar. Lakukan aktivitas olahraga secara rutin sedikitnya 30 menit setiap harinya.

a444d37a06d1040d95dd1d1abdb45143_medicaboo-card

Medicaboo : Aplikasi kesehatan di Google Play untuk Android

Yuk, Download Aplikasi Medicaboo!

Untuk mengetahui informasi rumah sakit, layanan kesehatan, dan dokter di Pekanbaru dengan mudah dan cepat! Akses website direktori rumah sakit di http://www.medicaboo.com atau tinggal klik di sini. Download aplikasi kesehatan Medicaboo android di Google Playstore.

Tags : #Faktaunikmedicaboo #Faktakesehatan #Medicaboo #Kesehatan #Healthfacts 

Facebook Comments
Share & Follow

More in Gaya Hidup Sehat

  • Disentri Disentri

    Gaya Hidup Sehat

    Disentri

    By

    Informasi ini dirangkum dari Google Medical Information, Hellosehat, dan Alodokter mengenai Disentri Defenisi: Disentri adalah penyakit pada...

  • Disleksia Disleksia

    Gaya Hidup Sehat

    Disleksia

    By

    Informasi ini dirangkum dari Google Medical Information, Alodokter, dan docdoc mengenai Disleksia. Defenisi: Disleksia adalah suatu gangguan...

  • Difteri Difteri

    Gaya Hidup Sehat

    Difteri

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter, Hellosehat dan Google Medical Information mengenai Difteri. Defenisi: Difteri adalah infeksi menular...

  • Diare Diare

    Gaya Hidup Sehat

    Diare

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Diare. Defenisi: Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan...

  • Dystonia Dystonia

    Gaya Hidup Sehat

    Dystonia

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter, dan docdoc mengenai Dystonia. Defenisi : Dystonia adalah kondisi medis yang...

  • Dry Socket Dry Socket

    Gaya Hidup Sehat

    Dry Socket

    By

    Informasi ini dirangkum dari Hellosehat, dan Alodokter mengenai Dry Socket. Defenisi : Dry socket / alveolar osteitis...

  • Disaselerasi Disaselerasi

    Gaya Hidup Sehat

    Dilaserasi

    By

    Informasi ini dirangkum dari klik dokter, halosehat, dan halogigi mengenai Dilaserasi. Pengertian : Gigi bengkok (dilaserasi)...

  • Dermatitis Kontak Dermatitis Kontak

    Gaya Hidup Sehat

    Dermatitis Kontak

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Dermatitis Kontak. Defenisi: Dermatitis kontak adalah peradangan pada...

  • Gejala Demam Kuning Gejala Demam Kuning

    Gaya Hidup Sehat

    Demam Kuning

    By

    Informasi ini dirangkum dari Alodokter dan Hellosehat mengenai Demam Kuning . Defenisi: Demam kuning atau yellow fever adalah jenis...

  • Croup / Laringotrakeobronkitis Croup / Laringotrakeobronkitis

    Gaya Hidup Sehat

    Croup / Laringotrakeobronkitis

    By

    Informasi ini dirangkum dari bukusakudokter.com, Alodokter, dan Hellosehat mengenai Croup / Laringotrakeobronkitis. Defenisi: Croup (Laringotrakeobronkitis) adalah suatu infeksi...

Populars

Cantengan

Gaya Hidup Sehat

Cantengan / Paronychia

By Maret 7, 2018
angioedema

Diet

Angioedema Herediter

By Desember 22, 2017
aneurisma-aorta-ilustrasi-2-foto-shutterstock

Gaya Hidup Sehat

Aneurisma Aorta Dada

By Desember 14, 2017

Tags

Categories

To Top